Text
PENDAPATAN DAN KERENTANAN PETANI KOPI ROBUSTA DI SEKITAR KAWASAN TAMAN NASIONAL BUKIT BARISAN SELATAN
Kopi, komoditas perkebunan unggulan di Indonesia, memiliki potensi tinggi karena tren
konsumsi dan produksinya yang cukup besar. Bersama dengan teh dan rempah-rempah (kode
HS 09), kopi menyumbang 41,5 persen dari total ekspor pertanian Indonesia selama 2016-2020.
Produksi kopi utama terbesar di Indonesia terletak di Sumatera Selatan, Lampung, Aceh, dan
Jawa Timur. Bersamaan dengan besarnya produksi kopi, dampak negatif terjadi pada alih fungsi
lahan dari hutan menjadi lahan pertanian, salah satunya di provinsi Lampung di mana 60 persen
wilayah di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Nasional (TNBBS) telah
terdegradasi menjadi lahan kegiatan pertanian (73 persen digunakan untuk lahan kopi robusta).
Di tengah maraknya industri ini, pandemi Covid-19 membawa tantangan baru bagi pertanian
kopi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan tingkat pendapatan
usaha tani kopi dan kerentanan keluarga petani kopi di sekitar TNBBS, baik di dalam maupun
di luar TNBBS, pada pandemi Covid-19. Data yang digunakan pada penelitian ini didapat dari
data primer melalui wawancara langsung dengan penentuan sampel dilakukan menggunakan
non-probability sampling metode quota sampling. Analisis data menggunakan analisis pendapatan
usaha tani beserta garis kemiskinan rumah tangga petani dan analisis indeks kerentanan mata
pencaharian. Hasil analisis memperlihatkan bahwa petani kopi di luar kawasan TNBBS
menikmati pendapatan dan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang
berada di dalam TNBBS, hal ini sejalan dengan angka kemiskinan yang memperlihatkan bahwa
angka kemiskinan lebih tinggi pada petani di dalam TNBBS. Analisis kerentanan menunjukkan tingkat kerentanan skala menengah bagi keluarga petani di kedua wilayah, yang memerlukan
dukungan yang ditargetkan untuk meningkatkan ketahanan mereka
| UIB00007566 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain